AKU, KAMU DAN KITA SEMUA

Hai! Namaku Naomi, aku adalah siswi kelas sembilan. Dan aku beragama kristen. Aku merasa beruntung karena bisa masuk kedalam sekolah negeri karena aku akan bertemu dengan teman-teman baru yang memiliki asal yang berbeda, mereka bahkan memperlakukan ku dengan baik. Tidak pernah terjadi pertengkaran antara kita, ataupun ada, itupun hanya masalah kecil yang selanjutnya akan dilupakan. Hari ini, sekolah memerintahkan kita untuk membersihkan kelas setelah upacara hari Senin dilakukan.

Ditengah- tengah mengamati teman yang lain bekerja, aku teringat sesuatu. Aku teringat tentang salam PPK yang diajarkan oleh guru PPL beberapa hari lalu, isinya yaitu religius, mandiri, nasionalis, gotong royong dan integritas. Aku termenung beberapa saat untuk memikirkan makna dari salam PPK itu, ketika aku sedang berpikir ada seseorang yang menepuk bahuku.

“Naomi? Gak baik loh ngelamun, mending bantuin orang-orang.”

“Eh? Iya sorry Ziyan.”

“Itu bantuin Nana, dia ngelap jendela sendirian.” Ucap Ziyan sambil memberikanku sebuah kain lap.

            Aku mengangguk sambil menerima kain lap dari ketua kelasku yaitu Ziyan, kemudian aku berjalan mendekati Nana dan membantunya. Nana adalah salah satu anak pindahan dari Probolinggo, dia pindah ke Sidoarjo karena pekerjaan orang tuanya berada disana, dia anak introvert, dia lebih suka sendirian. Walaupun terkadang sering menghampiriku untuk berbincang atau curhat sedikit.

            Ketika aku mulai mengelap kaca, Nana kaget karena kehadiranku dan kemudian terkekeh pelan. Disela-sela mengerjakan pekerjaan, aku mengajak Nana berbincang sedikit. Ketika kita sedang berbincang, tiba-tiba Ziyan menghampiriku dan mengajakku pergi ke ruang guru karena ada panggilan ketua kelas, yang mau tak mau aku harus ikut karena aku adalah wakil ketua. Aku berpamitan kepada Nana dan kemudian berjalan disamping Ziyan menuju ruang guru. Oleh seorang guru, mereka diberi informasi tentang kegiatan lomba Literasi yang akan dilaksanakan besok, dengan segera kita memberitahu informasi itu kepada teman-teman yang lain.

“Besok yang lomba Literasi udah siap?” Tanya Ziyan kepada teman-temannya.

“Yoi Yan, siap euy!”

“Oke lah, oh ya, nanti usahakan kerja baktinya sebelum solat Dhuhur kudu udah selesai ya.”

“SIAP!!!” Teriak teman-teman yang lain serempak.

            Tiba-tiba suara teriakan yang diikuti dengan suara sesuatu yang pecah terdengar ditelingaku, Ziyan menoleh kearah sumber suara itu sambil menghela napas pelan. Kemudian dia menyuruhku untuk mendekati suara itu, sementara dia pergi untuk membantu temannya yang lain untuk memajang karya teman-teman. Aku pun berjalan mendekati suara itu dan kemudian kaget melihat pecahan vas bunga dilantai.

“Eh maaf  Kal! Sumpah gue gatau kalo elu megang vas bunga.”

“Minta maaf doang, gantiin! Mahal sumpah itu vas bunga!”

“Eh udah-udah! Riski kok malah ngotot gitu sih?!” Teriak Naomi menengahi.

            Seketika Riski dan Haikal terdiam, tetapi sepertinya Riski tidak terima, dia memandang Haikal dengan tatapan tajam dan sinis. Didekat kita bertiga ada Surya yang melihat kejadian tadi. Aku pun bertanya kepada Surya bagaimana kronologi kejadian vas bunga itu, dengan baik Surya menjelaskan kejadiannya. Setelah mendengar penjelasan Surya, akhirnya aku paham dengan kejadian itu. Aku pun memberitahu kepada Riski dan Haikal bahwa tidak ada yang harus disalahkan tentang kejadian vas bunga itu. Awalnya Riski sempat menolak, tetapi setelah aku memberitahunya dia mengalah.

“Sori Kal, tapi beneran tadi gue gatau kalo elu dibelakang gue.”

“Iye gapapa, gue juga minta maaf gegara neriakin lu tadi.”

“Hooh, itu vas bunga nanti gue gantiin.”

“Eh, gausah Ki. Itukan inventaris kelas, nanti beli lagi pake kas kelas aja.”

“Gapapa emang Mi?” Tanya Riski kaget.

“Iya gapapa, ntar aku bilangin ke bendaharanya. Udah lanjutin aja kerja baktinya.”

            Riski dan Haikal mengangguk dan kemudian membersihkan pecahan vas bunga itu bersama-sama, hatiku merasa tentram melihatnya. Tiba-tiba terdengar suara adzan Dhuhur dari masjid sekolah, seketika satu kelas panik karena kerja bakti yang dilaksanakan belum selesai. Mereka semua mengerjakan pekerjaan mereka dengan terburu-buru. Aku sebagai wakil ketua kelas yang baik dan tidak sombong pun menenangkan mereka sambil memberi nasihat sedikit.

“EH! Berhenti dulu bentar, dengerin aku ya semua. Mending yang muslim solat dulu aja. Kerjaan kalian kan udah selesai, liat tuh kelasnya udah rapi.” Ucapku sambil memandangi keadaan kelas.

            Teman-teman yang lain menyadari kalau kelas mereka sudah rapi dan bersih, akhirnya mereka bergegas pergi ke masjid sekolah dan melaksanakan kewajiban mereka.

            Aku senang memiliki teman yang beragam. Walau suku, asal dan agama berbeda, mereka mempunyai jiwa kebersamaan yang tinggi. Aku berharap semoga kebersamaan teman-temannya bertahan sampai kelulusan kelas sembilan nanti.

 Setelah teman-teman yang muslim kembali dari masjid, kita beristirahat selama kurang lebih setengah jam, kemudian melanjutkan dua jam pelajaran yang terakhir dengan materi dari guru mapel. Ketika bel pulang terdengar, kita merapikan buku dan pulang menuju rumah masing-masing. 

DITULIS OLEH NOVA RAMADHANA KELAS IX-C